Kyai Achmad Zawawi

Kemandirian yang Memberkahi

Tak berlebihan kiranya jika kita menyatakan bahwa  Kyai Achmad Zawawi identik dengan Pondok Al Iman Putra. Karena setiap geliat mulai lahir hingga saat ini Pondok Al Iman Putra di Ngambakan, Bangunrejo, Sukorejo, Ponorogo tak lepas dari pantauan dan kebijakan Kyai Zawawi. Setiap sudut bangunan tak lepas dari sentuhan tangan Kyai Zawawi. Awal membangun Al Iman Putra memang – entah kebetulan atau betul – betul sudah direncanakan- bertepatan dengan dinikahkannya Kyai Zawawi dengan Nyai Usnida Mubarokah, putri kedua pendiri Pondok Al Iman KH Mahfudz Hakiem (alm).

Saat itu, Al Iman masih berusia dua tahun, berlokasi di kediaman pendiri, Gandu Mlarak Ponorogo, dengan 80 santri putra dan putri. KH Mahfudz Hakiem dan menantu pertamanya, KH Imam Bajuri, berencana untuk memsisahkan pondok putra dan putri atas dasar masukan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Maka kehadiran Kyai Zawawi sangat membantu perjuangan Pondok Pesantren al-Iman, bersamaan dengan  KH Mahfudz Hakiem dan KH Imam Bajuri.

Masa Kecil dan Masa Muda

Achmad Zawawi lahir sebagai putra pertama dari pasangan orang tua yang sangat taat beragama, yaitu Bapak H.Nizar Baidlowi dan Ibu Tamami. Beliau lahir pada tanggal 10 Juni 1965 di Desa Pokeren Kecamatan Rembang Bangil Pasuruan, daerah yang sangat kental dengan agama sehingga sejak dini Kyai Zawawi sudah kenal agama dengan sangat baik.

Kyai Zawawi kecil sudah menampakkan prestasi dan keberaniannya sejak di bangku TK, yakni salah satunya menjadi juara 1 lomba baca puisi se-Kabupaten Bangil. Sekolah Dasar pun ditempuhnya hanya dalam waktu 5 tahun atas keputusan dan kebijakan guru Kepala Sekolah Dasar Negeri Pekoren. Di luar jam sekolah SD, Kyai Zawawi dibimbing kakeknya, KH Abdul salam -yang termasuk kyai khawas- tentang kehidupan agama, sosial, dan ekonomi. Di antara ajaran yang sangat berkesan adalah tentang Pendidikan kemandirian. Beliau dapat membeli sepeda motor pada kelas 6 SD dari hasil jerih payahnya menggarap sawah dengan tanaman lombok.

Di bidang sosial, kakeknya juga mengajarkan sifat dermawan dengan selalu menyembelih kambing untuk tamu-tamu yang mengikuti pengajian di rumahnya. Tidak cukup itu, disela kehidupan dengan keluarganya, Kyai Zawawi juga nyantri kepada KH Mahfudh yang masih kerabatnya di Pondok Pesantren Miftahul Falah, tak jauh dari rumahnya.

Selepas SD, Kyai Zawawi memilih belajar di SMP Bangil. Lulus SMP, kembali Kyai Zawawi menunjukkan keberanian, kenekatan, dan kemandiriannya dengan bersepeda pancal ke Gunung Lawu dan Danau Sarangan dari rumahnya yang kurang lebih berjarak 200 km. Dari sinilah Kyai Zawawi muda mengenal Pondok Modern Gontor. Ketika beliau menyampaikan niatnya ingin mondok disana, kakeknya tidak mengizinkan karena menganggap Pondok Modern Gontor berpaham Muhammadiyah. Sambil menunggu saat yang tepat, Kyai Zawawi masuk sekolah SPG Pasuruan. Hanya berjalan satu semester, H. Nizar, ayah Kyai Zawawi berhasil meyakinkan KH Abdul Salam untuk menyekolahkan Zawawi ke Pondok Modern Gontor. Di awal nyantri di Gontor, kembali Zawawi kembali menunjukkan pemikiran dan kemandiriannya. Dia sebenarnya bisa mengikuti tes masuk kelas 1 eksperimen (kelas intensif) dengan masa belajar empat tahun. Tetapi beliau ingin memulai dari kelas 1 biasa dengan masa belajar enam tahun. Dengan alasan semakin lama mondok, semakin memahami dan menguasai ilmu dan kehidupan pondok.

Sejak kelas 5 KMI Pondok Modern Gontor, Kyai Zawawi meminta kepada orang tuanya untuk mengurangi biaya sekolah, karena ia sadar bahwa, adik- adiknya lebih membutuhkannya. Sebagai  pengurus OPPM bagian diesel, ia memang diberi fasilitas oleh PM Gontor untuk mendapatkan keringanan pembayaran uang pondok. Sejak itulah Zawawi mulai mandiri. Di kelas ini pula, Zawawi sudah memiliki keinginan untuk menjadi kyai dan mulai merancang konsep untuk cita-citanya tersebut. Di lingkungan teman-temannya, Zawawi dikenal sebagai santri yang berani dan memiliki jiwa kepemimpinan yang handal. Terbukti dia sering mengetuai organisasi rayon, konsulat, kepanitian dan lain-lain. Maka selepas dari KMI, ia terpilih untuk menjadi guru di KMI PM Gontor.

Sebagai guru juga mahasiswa ISID Gontor, Zawawi dan beberapa temannya masih menyempatkan diri untuk ngaji kepada KH Hasan Abdullah Sahal agar mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup dan kehidupan. Ia bersama teman-temannya juga mendirikan forum-forum ilmiah untuk mengasah intelektual mereka. Selain itu, ia dipercaya oleh pimpinan PM Gontor untuk turut serta membidani dan membidangi berdirinya beberapa unit usaha PM Gontor yang memang pada saat itu PM Gontor memulai berkiprah dalam pemberdayaan ekonomi tidak saja di internal pondok tetapi di kawasan Kota Ponorogo. Bersama beberapa guru, Ust Zawawi mengelola Unit Kesejahteraan Keluarga PM Gontor yang bergerak dalam bidang usaha bahan bangunan.

Berawal dari keistiqomahan Ust. Zawawi dalam sahirallayali  dengan ustadznya, yaitu KH Mahfudz Hakiem. Pondok Al Iman yang didirikan KH Mahfudz tidak jauh dengan toko besi yang dikelolanya, muncul rasa simpati KH Mahfudz kepadanya. Maka tawaran untuk menikah dengan putrinya pun muncul disaat keinginannya untuk melanjutkan studi ke Mesir dan tawaran-tawaran berbisnis dari kolega-koleganya sangat kuat. Melalui istikharah dan keyakinan bahwa membantu mengembangkan Pondok Al Iman jauh lebih bermanfaat, tawaran itupun tidak ditolaknya. Niat inipun direstui oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi, MA. Sebagai up grading, Ust. Zawawi ditugaskan bersama Ust. Ma’ruf untuk babat dan memulai pengajaran Ponok gontor III atau Pondok Daarul Ma’rifat di Kediri.

Direktur KMI dan Pimpinan Pondok Pesantren Al Iman Putra

Setelah menikah, babat Pondok Pesantren Al Iman Putra pun dilakukan dengan membangun bangunan pokok yaitu gedung kelas, asrama, dan MCK. Hijrah santri putra dari Gandu ke Ngambakan dengan berjalan kaki menempuh jarak 19 km atau dikenal dengan mashiratul iman yang dilepas oleh para pimpinan PM Gontor terlakasana pada tanggal 17 Oktober 1993. Dimulai tanggal itulah perjalanan pondok di Al Iman Putra dimulai. Kyai Achmad Zawawi sebagai direktur KMI sekaligus pengasuhan santri (KH Mahfudz Hakiem sebagai pimpinan pondok putra sekaligus putri) mendidik dan membina 70 santri. Belum adanya rumah tidak mengecilkan hati Kyai Zawawi dan istri. Beliau menempati satu ruang untuk keluarganya meskipun di lokasi yang jauh dari kelayakan.

Ada cerita berharga yang berkaitan dengan kepemimpinan beliau di Pondok Pesantren Al-Iman Putra. Hal ini berkaitan dengan pesan Kakek Kyai Zawawi sebelum berangkat menuntut ilmu ke Pondok Modern Gontor. Dengan segala keberatan beliau berpesan: “Le, ilmu itu sangat beragam. Kamu jangan mencari ilmu macam –macam selain yang diberikan pondok sampai kamu berumur 35 tahun”. Wejangan itu bukan tanpa makna, saat genap usia 35 tahun, Kyai Zawawi diberi karunia oleh Allah, yaitu menyembuhkan penyakit dan membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi orang lain.

Awalnya banyak santri yang pada saat itu sakit gigi, Kyai Zawawi mencoba untuk mendoakan, dengan izin Allah penyakit tersebut hilang. Karunia ini kemudian terdengar oleh masyarakat secara luas. Banyak masyarakat Ponorogo dan luar kota berdatangan untuk “ meminta tolong “. Kyai Zawawi berprinsip apa yang dilakukan selain membantu sesama sebagai kewajiban sesama muslim, juga untuk kepentingan syiar pondok. Saat itu beliau mengalami pilihan yang dilematis, satu sisi menguntungkan pondok tetapi di sisi lain waktu untuk konsolidasi pondok dan membimbing santri jauh berkurang. Hingga suatu hari diingatkan oleh putri pertamanya yang waktu itu masih berusia 5 tahun. Putri sulung beliau dengan menulis kapur di pintu masuk rumah “Ayah tidak ada di rumah, tidak menerima tamu” tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sejak itu, penerimaan tamu diatur dengan komposisi yang menguntungkan pondok. 

Disela kesibukan membimbing santri, asatidz, dan mengelola pondok secara keseluruhan, Kyai Zawawi masih menyempatkan diri mengajar masyarakat. Walaupun tidak memilih menjadi kyai masyarakat, Kyai Zawawi mempersilahkan masyarakat yang membutuhkan bimbingannya datang ke Pondok Al Iman untuk ngaji. Salah satunya adalah majelis ta’lim desa Bangunrejo-Kauman yang beranggotakan ibu-ibu, sekelompok wiraswasta dari Ponorogo, Solo, Tuban, Wonogiri, dan masih banyak lagi.

Pendidikan VS Pembudayaan

Bagi Kyai Achamd Zawawi pendidikan adalah ruh hidupnya, tiada hari tanpa mendidik. Secara formal, beliau menjadi pendidik di Pondok Al Iman Putra, Putri dan Pondok Modern Gontor. Secar informal dan nonformal, setiap saat mulai ba’da subuh sampai tengah malam bahkan sampai subuh lagi beliau mendidik santri, asatidz, dan masyarakat. Materi dan substansinya tergantung pada kebutuhan mereka. Salah satu pola pendidikan dan pembudayaan yang sering diterapkan adalah trial and error. Caranya dengan memberikan tugas langsung di lapangan, baik bagi santri santri maupun asatidz yang mendorong mereka untuk mencari pola kerja sendiri.

Melalui evaluasi, santri akan mendapatkan ilmu dan juga pengalaman baru. Dengan cara ini, Kyai Zawawi tidak hanya sekedar mendidik tetepi juga membudayakan kehidupan islami. Dan ini pula yang menjadi ciri khas Pondok Pesantren Al Iman Putra, setiap sisi kehidupan dilakukan berdasarkan musyawarah dengan penghayatan yang tinggi. Sebagai contoh adalah pola hidup sederhana dan mandiri yang diajarkan oleh Kyai Zawawi telah menjadi budaya di Al Iman Putra. Bila pondok ditinggal Kyai Zawawi untuk waktu yang agak lama, program tetap berjalan dengan baik. Ketika salah satu ustadz ditanya, jawabnya walaupun secar fisik Kyai Zawawi tidak berada di pondok, tetapi ruhnya selalu berada bersama asatidz dan santri.

 

 

Keluarga dan Perannya

Perjalanan pondok pesantren Al Iman Putra semakin baik ketika adik Kyai Zawawi, H. Iman Nur Hidayat, MA  beserta istri, HJ. Saiyah Umma Taqwa, MA dan putri putrinya kembali ke tanah air setelah lebih dari sepuluh tahun menempuh pendidikan di Al Azhar Cairo Mesir. Saat ini Drs.KH. Achmad Zawawi dengan istrinya, Dra. Usnida Mubarokah M.Pd. dan empat putra putrinya Nasrehat Zimam Al Husna (27th), Aghyal Maghrabi Habibullah (24th), Damirdas Kaffa Habibullah (19th), dan Haylala Saknaa (14th) beserta keluarga H.Iman Nur Hidayat, MA bekerja sama dalam menegakkan agama Allah melalui pengelolaan Pondok Pesantren Al Iman Putra. Semoga Allah senantiasa meridloi dan memberkahi. Allahumma Amin.

Ditulis oleh Usnida Mubarokah