Ustadzah Hj. Ratna Dairaturrohmah, S. Pd, M. Pd. I

(Kepala Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Al-Iman)

FIGUR KARTINI MUDA SEBAGAI MUJAHIDAH MA’HAD

 

            Ustadzah Ratna Dairaturrahmah atau biasa kita kenal Ibu Ratna adalah sosok yang sangat bersahaja, lembut, dan tawadhu seperti yang kita kenal selama ini. Beliau lahir di Gandu, Mlarak, Ponorogo pada tanggal 24 Januari 1972. Beliiau adalah putri ke-tiga dari pasangan Ust. KH. Mahfudz Hakiem Alm. dan Ibunda Hj. Siti Qomariyah sebagai perintis dan pendiri pondok. Beliau mulai belajar di Taman Kanak-Kanak pada tahun 1977-1979 kemudian diteruskan di MI Ma’arif Gandu pada tahun 1979-1985, Madrasah Tsanawiyah Al-Islam Joresan 1985-1988, Madrasah Aliyah Al-Islam Joresan 1988-1991, S1 Bahasa Inggris IKIP Malang 1991-1996, dan S2 INSURI Ponorogo 2005-2007, begitulah sejarah pendidikan yang ditempuh oleh beliau sehingga menjadikannya wanita yang hebat dan berpengetahuan luas.

Dengan tutur kata yang lembut beliau menyampaikan bahwasanya rasa syukur yang begitu besar karena beliau menjadi putri dari pasangan Ust. KH. Mahfudz Hakiem (Almarhum) dan Ibunda Hj. Siti Qomariyah yang selalu membimbing, memberikan motivasi dengan pendidikan yang luar biasa bahkan beliau lebih membanggakan didikan Ust. KH. Mahfudz Hakiem dan Ibunda Hj. Siti Qomariyah daripada jenjang pendidikan yang telah beliau tempuh selama ini. Pernah suatu waktu ketika beliau duduk di kelas 3 MTs, beliau menangis karena besok adalah ujian kitab Ta’lim Muta’alim, sedangkan beliau belum faham dengan pembelajaran “makna gandul” Bahasa Jawa. Maka saat itu juga dijelaskan oleh Ayahanda Ustadz KH. Mahfudz Hakiem dengan sabar dan telaten sampai beliau memahami kitab tersebut dengan baik. Begitu juga dengan materi kelas 4&5 seperti mutholaah, hadits, usul fiqih, dan tarbiyah yang belum beliau fahami, maka Ayahandanyalah yang menjelaskan langsung. Karena do’a-do’a Ayahanda dan Ibunda beliaulah yang menjadikan beliau berkesempatan mendapatkan juara umum di Al-Islam beberapa kali sehingga diberikan bebas biaya SPP selama beberapa tahun, dan juga mendapat kesempatan pula untuk beasiswa TID (Tunjangan Ikatan Dinas) ketika kuliah di IKIP Malang.

Dalam masa remaja yang mana setiap orang tua mengkhawatirkan putra dan putrinya, Ust. KH. Mahfudz Hakiem memberi kepada murid-murid Al-Islam dalam pekan perkenalan “Tidak usah kamu pacaran”. Dan itu terngiang sehingga beliaupun tidak pernah pacaran. Mengenal teman lelaki itu wajar, tetapi ketika ada yang berusaha mendekati, beliau menghindar, sampai usainya pembelajaran beliau di perguruan tinggi. Tatkala itu Ustadz Zulkarnain (suami beliau) baru saja menyelesaikan pendidikan di pondok ini (Al-Iman). Beliau sudah mengenal Ustadz Zulkarnain kala beliau masih menjadi santri (sebatas mengetahui saja). Mungkin Ayahanda dan Ibunda beliau memandang Ustadz Zulkarnain sebagai santri yang tawadhu dan baik sehingga Ayahanda dan Ibunda beliau menginginkan Ustadz Zulkarnain sebagai menantu untuk putrinya tercinta. “Sami’tu wa Ato’tu” begitulah beliau menjawab pertanyaan tentang kesediaan beliau untuk dipersatukan.

Madrasah Aliyah Al-Iman didirikan semenjak tahun 1993, dan ketika itu izin operasionalnya diurus sampai ke kantor wilayah Jawa Timur di Surabaya oleh Drs. KH. Imam Bajuri, M.Pd.I dan Ustadzah. Dra. Hj. Arini Ulfah Hidayatin, beliaulah yang mengawali berdirinya Madrasah Aliyah Al-Iman. Saat berdiri, MA Al-Iman masih beralamat di Bajang, Mlarak, Ponorogo dan pindah ke Babadan tahun 1995 bersamaan dengan pindahnya Pondok Pesantren Al-Iman Putri. Awal berdiri hingga tahun 2006, kepala madrasahnya adalah Ust Drs. KH. Imam Bajuri, M.Pd.I.

Pada tahun 2004, Ustad KH. Mahfudz Hakiem wafat sehingga kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Iman Putra diserahkan kepada Drs. KH. Achmad Zawawi dan Pondok Pesantren Al-Iman Putri diserahkan kepada Drs. KH. Imam Bajuri, M.Pd.I. Maka aktivitas Ustadz. KH. Imam Bajuri, M.Pd.I semakin banyak, sehingga dari hasil musyawarah, untuk kepala MA diserahkan kepada beliau (Ustadzah Ratna Dairaturrahmah, S.Pd, M.Pd.I), sebab saat itu beliau mengajar di MAN 2, sedikit banyak tahu tentang kepengurusan MA. Maka pada saat itulah dedikasi beliau dimulai dalam memimpin MA Al-Iman.

                Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Al-Iman ini terpadu dengan KMI, sehingga tercipta kerjasama yang baik antara KMI dan MA. Pembelajaran di MA harus sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan namun tidak boleh keluar dari koridor KMI. Terkadang ada hal yang berbenturan dengan KMI seperti jadwal pelaksanaan ujian dsb, maka harus dimusyawarahkan untuk mencapai win-win solution. Dari tahun 2006-2012 beliau masih mengajar di MAN 2 sehingga kurang maksimalnya dalam mengelola MA Al-Iman, sehingga mulai tahun 2012 beliau memutuskan untuk mengabdi sepenuhnya untuk MA Pondok Pesantren Al-Iman.

            Sepanjang masa perjalanan dan perjuangan beliau memiliki visi dalam hidup “ Menjadi pribadi yang bertaqwa kepada Alloh SWT, berbakti kepada orang tua, memiliki akhlaqul karimah, berarti bagi keluarga, dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain”. Selain visi, beliau juga berpegang teguh pada misi “ Berusaha selalu mendekatkan diri kepada Alloh SWT, membahagiakan dan mendoakan orang tua, berusaha memperbaiki sifat, karakter & attitude, berusaha menjadi istri yang berbakti kepasa suami & ibu yang bijaksana bagi anak-anak, dan berusaha membantu orang lain.

            Dalam jalan pengabdian dan perjuangan ini, puncak kebahagiaan yang beliau rasakan adalah melihat para santri dan para alumni Al-Iman yang sukses dan berguna bagi lingkungannya, mempunyai attitude yang baik dan membawa nama baik Al-Iman. Sedangkan pahit manisnya dalam perjuangan ketika ketidakberdayaan beliau tatkala cobaan datang yaitu berupa sakit dan didiagnosa Remhathoid Arthritis, salah satu sakit autoimun. Dalam kondisi tersebut beliau tidak dapat membantu pondok secara maksimal, namun bukan menjadi suatu alasan bagi beliau untuk berhenti berjuang di jalan yang diridhoi Alloh SWT. Saudara, teman, dan keluarga terutama ibu, suami dan anak-anak memberikan motivasi yang luar biasa. Karena kesabaran mereka dan usaha mereka, Alloh memberikan kesembuhan bagi beliau sehingga seperti sekarang ini.

            Hidup adalah ladang perjuangan untuk mendapat dan mencari ridho Alloh SWT. Seuntai kalimat inilah yang dijadikan motivasi beliau selama ini. Sehingga menjadikan beliau wanita yang tangguh, dan mempunyai semangat perjuangan yang tinggi terhadap umat. Kekurangan fisik bukanlah alasan untuk beliau berhenti berjuang untuk umat. Justru dijadikan cambuk semangat untuk membuktikan bahwasanya beliau sebagai wanita masih sanggup dan mampu berbuat lebih. Beliaulah mungkin salah satu Kartini muda dengan semangat juang tinggi yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Al-Iman ini. Dan dalam keihlasan beliau berjuang semoga diberikan kebaikan dan kesejahteraan dunia dan akhirat. Allohuma Aamiin.