Service

Pelayanan Kami

Melayani segala kebutuhan santri

01

Mini Market

Mini Market Al-Iman memudahkan para santri untuk berbelanja kebutuhan. Para wali juga bisa memesankan paket barang/makanan yang tersedia secara online untuk para santri

Read More
02

Unit Kesehatan Santri

Memiliki raung kesehatan santri yang memadai serta fasilitas yang cukup seperti, ruang, alat, obat, transportasi, dan tenaga ahli khusus guna menunjang kesehatan para santri, dan

Read More
03

Alim Trans

Armada transportasi unggulan kami mempermudahkan para wali atau santri untuk bepergian. Dengan fasilitas armada Haice Premio, Elf long, dan Luxio akan menemenani para wali dan santri saat bepergian.

Read More
04

Al-Iman Laundry

Kegiatan yang padat, cuaca yang kurang mendukung, ataupun cucian terlalu berat untuk di cuci. Al-Iman Laundry adalah pemecah masalah santri agar kebersihan pakaian selalu terjaga. Bahkan para wali bisa mengkondisikan cucian para santri lewat online melalui Al-Iman Laundry

Read More
Kabar Terbaru

Semua Kabar Terbaru Kami

Segala hal update terbaru dari Al-Iman Ponorogo

EBTA 2 bukan sekadar ujian

Sabtu, 7 Februari 2026 santri kelas 6 KMI Pondok Pesantren Al-Iman Putra dan Putri berdiri di salah satu titik terpenting dalam perjalanan mereka.
EBTA 2 bukan sekadar ujian kedua, ia adalah bagian akhir dari rangkaian panjang belajar, berjuang, dan bertahan.
Tempat dimana sisa tenaga, fokus, dan kesungguhan benar-benar diminta untuk dikeluarkan. Setidaknya tidak kurang dari 22 pelajaran akan diujikan pada EBTA 2 ini, menyusul setelahnya ujian lisan selama sepekan di bulan Ramadhan.
Dalam upacara pembukaan, pesan Ustadzah Dr. Hj. Saiyah Umma Taqwa, MA. terdengar jelas menguatkan:
yang terakhir harus lebih baik dari yang lalu.
Karena di akhir inilah, tidak ada lagi ruang untuk setengah-setengah.
Langkah terakhir kini dimulai.
Dengan usaha sepenuh hati, doa yang terus menyertai, dan harapan akan hasil terbaik.
Semoga setiap ikhtiar hari ini menjadi saksi dari perjuangan yang dijalani dengan sungguh-sungguh.

Jembatan Ukhuwah: Dari Kuwait & Qatar untuk Indonesia

Jembatan Ukhuwah: Dari Kuwait & Qatar untuk Indonesia

Momen penuh keberkahan saat kami menyambut kunjungan guru-guru mulia dari Qatar dan Kuwait di Pondok Pesantren Al Iman Putri pada Senin, 2 Februari 2026.

Suasana sudah terasa hangat sejak awal, sesaat setelah hujan deras berhenti, para tamu kehormatan melintasi pagar betis yang berjajar rapi dari lapangan hingga menuju Qoah (Aula) menjelma menjadi suasana yang hangat tapi sekaligus menyejukkan.

Suatu kehormatan besar bagi kami dapat menyambut hangat rombongan para tamu mulia, di antaranya adalah Hudzail Assabti, Ahmad Al Haouly, Abdurrahman Aly Zaid Mahfal, serta para guru lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu tanpa mengurangi rasa hormat.

Suasana semakin hidup dengan iringan Hadroh kontemporer yang energik. Kedekatan antar bangsa ini pun terasa kian khidmat saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dengan gagah, disusul dengan lagu kebangsaan Kuwait yang menyentuh hati.

Suasana di dalam Qoah semakin bermakna saat Dr. Hj. Saiyah Umma Taqwa, MA memberikan sambutan hangatnya. Beliau menyampaikan pesan penting tentang menjaga persaudaraan lintas negara dan bagaimana kolaborasi ini membawa keberkahan bagi umat. Acara diakhiri dengan penyerahan shodaqoh Ramadhan membuat hati tersentuh dengan aksi nyata ini.
Terima kasih atas kunjungannya, semoga ukhuwah ini terus terjaga dan membawa manfaat yang luas

Grand Final Queen of Language 2026

Grand Final pemilihan Queen of Language 2026 digelar meriah Kamis malam, 12 Februari 2026.Rifna Farha Ramadani berhasil menyandang gelar Queen of Language 2026 setelah berhasil memukau para juri dengan pemaparannya yang tegas, fasih dalam bahasa Arab, tenang, dan percaya diri. Faranisa Aqila Nazuro keluar sebagai Runner-up 1 dan Elsa Aulia Putri sebagai Runner-up 2. Kemenangan mereka disambut tepuk tangan meriah tanda dukungan yang tidak terbendung dari seluruh santri dan guru.


Grand final ini menampilkan para finalis terbaik yang telah melalui berbagai tahap seleksi, mulai dari tes kemampuan bahasa, pelajaran akademik, public speaking, hingga unjuk bakat.Kegiatan ini diharapkan dapat terus menjadi program inspiratif dan menjadi motivasi santri untuk mencintai bahasa sebagai jendela dunia dan sebagai wadah peningkatan bahasa bagi seluruh santri, serta pendidikan

tanggungjawab dan loyalitas bagi panitia kelas 5 KMI.
Selamat untuk para pemenang, semoga selalu menginspirasi, kalianlah teladan berbahasa bagi seluruh santri.

Small is Beautiful

Oleh: Rochmad, S.Th.I, M.A., Ph.D

Alumni 2005

Dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan dengan angka, Pondok Pesantren Al-Iman Ponorogo justru berjalan dengan langkah yang tenang. Ia tidak besar, tidak riuh oleh ribuan santri, dan tidak pula sibuk membangun citra. Al-Iman adalah pondok yang masih merintis, kecil dalam ukuran, namun teguh dalam komitmen. Dari kesederhanaan itulah lahir sebuah keyakinan yang sering terdengar di kalangan santrinya: small is beautiful.

Kecil, dalam konteks Al-Iman, bukanlah kekurangan. Ia adalah ruang. Ruang untuk tumbuh, ruang untuk memperhatikan, dan ruang untuk mendidik dengan lebih manusiawi. Ketika jumlah santri masih sedikit, setiap santri bukan sekadar angka dalam daftar, melainkan pribadi yang dikenali. Nama, watak, kebiasaan, bahkan kelemahannya, tidak luput dari perhatian para pengasuh. Pendidikan pun tidak berjalan secara mekanis, tetapi personal.

Di pondok kecil seperti Al-Iman, relasi antara pengasuh dan santri terasa dekat, namun tetap berjarak dalam adab. Kedekatan ini bukan untuk memanjakan, melainkan untuk membimbing. Nasihat tidak selalu datang dalam bentuk ceramah panjang, tetapi sering hadir dalam sapaan sederhana, teguran singkat, atau keteladanan yang diam-diam. Dalam suasana seperti itu, santri belajar bahwa pendidikan sejati tidak selalu bersuara keras, tetapi konsisten hadir.

Jumlah santri yang terbatas juga menjadikan proses pendidikan lebih terpantau. Kesalahan tidak dibiarkan berlarut-larut, dan potensi tidak dibiarkan terpendam. Setiap santri mendapat kesempatan untuk dilibatkan, dipercaya, dan diuji. Amanah diberikan bukan karena santri sudah sempurna, tetapi justru agar mereka belajar menjadi dewasa. Di sinilah pendidikan karakter bekerja secara nyata, bukan melalui slogan, melainkan pengalaman.

Pondok Al-Iman, meski masih kecil, menunjukkan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai kepesantrenan. Disiplin dijaga, adab ditanamkan, dan tradisi keilmuan dirawat. Kecilnya skala pondok justru memudahkan nilai-nilai itu mengalir secara utuh, tanpa banyak distorsi. Apa yang diajarkan selaras dengan apa yang dipraktikkan. Santri tidak hanya mendengar tentang kesederhanaan, tetapi menghidupinya setiap hari.

Kesederhanaan di Al-Iman bukanlah simbol keterbatasan fasilitas, melainkan sikap hidup. Ia melatih santri untuk tidak bergantung pada kemewahan, dan tidak menjadikan kenyamanan sebagai tujuan utama. Dari kesederhanaan itulah tumbuh daya tahan, keuletan, dan kepekaan sosial. Santri belajar bahwa hidup tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang memberi dan bertahan dengan bermartabat.

Dalam pondok yang masih merintis, setiap proses terasa penting. Tidak ada yang dianggap remeh. Setiap kegiatan, sekecil apa pun, menjadi bagian dari pembentukan mental. Santri menyadari bahwa mereka bukan penonton dalam sistem besar, melainkan bagian aktif dari perjuangan pondok. Kesadaran ini menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat, bahwa pondok bukan hanya tempat belajar, tetapi rumah nilai.

Julukan small is beautiful pada Pondok Al-Iman bukanlah pujian kosong, melainkan refleksi dari sebuah pilihan sadar. Pilihan untuk menumbuhkan kualitas sebelum kuantitas. Pilihan untuk membangun fondasi sebelum memperluas bangunan. Dalam dunia pendidikan, pilihan ini membutuhkan kesabaran dan keyakinan. Sebab hasilnya tidak selalu cepat terlihat, namun dampaknya cenderung lebih dalam dan tahan lama.

Al-Iman mengajarkan bahwa kebesaran tidak selalu dimulai dari keramaian. Ia sering lahir dari kesungguhan yang sunyi. Dari ruang-ruang kecil, dari perhatian yang tulus, dan dari nilai yang dijaga dengan istiqamah. Jika suatu hari Al-Iman tumbuh menjadi besar, maka kebesaran itu semestinya tetap berakar pada ruh awalnya: mendidik dengan hati, membina dengan teladan, dan menanamkan nilai sebelum mengejar nama.

Pada akhirnya, Pondok Pesantren Al-Iman Ponorogo memberi pelajaran sederhana namun mendalam: bahwa kecil bukan alasan untuk rendah diri, dan besar bukan jaminan kualitas. Selama nilai dijaga dan niat diluruskan, yang kecil pun dapat melahirkan makna besar. Dan di situlah keindahan itu bermula, small is truly beautiful.