Oleh: Rochmad, S.Th.I, M.A., Ph.D
Alumni 2005
Dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan dengan angka, Pondok Pesantren Al-Iman Ponorogo justru berjalan dengan langkah yang tenang. Ia tidak besar, tidak riuh oleh ribuan santri, dan tidak pula sibuk membangun citra. Al-Iman adalah pondok yang masih merintis, kecil dalam ukuran, namun teguh dalam komitmen. Dari kesederhanaan itulah lahir sebuah keyakinan yang sering terdengar di kalangan santrinya: small is beautiful.
Kecil, dalam konteks Al-Iman, bukanlah kekurangan. Ia adalah ruang. Ruang untuk tumbuh, ruang untuk memperhatikan, dan ruang untuk mendidik dengan lebih manusiawi. Ketika jumlah santri masih sedikit, setiap santri bukan sekadar angka dalam daftar, melainkan pribadi yang dikenali. Nama, watak, kebiasaan, bahkan kelemahannya, tidak luput dari perhatian para pengasuh. Pendidikan pun tidak berjalan secara mekanis, tetapi personal.
Di pondok kecil seperti Al-Iman, relasi antara pengasuh dan santri terasa dekat, namun tetap berjarak dalam adab. Kedekatan ini bukan untuk memanjakan, melainkan untuk membimbing. Nasihat tidak selalu datang dalam bentuk ceramah panjang, tetapi sering hadir dalam sapaan sederhana, teguran singkat, atau keteladanan yang diam-diam. Dalam suasana seperti itu, santri belajar bahwa pendidikan sejati tidak selalu bersuara keras, tetapi konsisten hadir.
Jumlah santri yang terbatas juga menjadikan proses pendidikan lebih terpantau. Kesalahan tidak dibiarkan berlarut-larut, dan potensi tidak dibiarkan terpendam. Setiap santri mendapat kesempatan untuk dilibatkan, dipercaya, dan diuji. Amanah diberikan bukan karena santri sudah sempurna, tetapi justru agar mereka belajar menjadi dewasa. Di sinilah pendidikan karakter bekerja secara nyata, bukan melalui slogan, melainkan pengalaman.
Pondok Al-Iman, meski masih kecil, menunjukkan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai kepesantrenan. Disiplin dijaga, adab ditanamkan, dan tradisi keilmuan dirawat. Kecilnya skala pondok justru memudahkan nilai-nilai itu mengalir secara utuh, tanpa banyak distorsi. Apa yang diajarkan selaras dengan apa yang dipraktikkan. Santri tidak hanya mendengar tentang kesederhanaan, tetapi menghidupinya setiap hari.
Kesederhanaan di Al-Iman bukanlah simbol keterbatasan fasilitas, melainkan sikap hidup. Ia melatih santri untuk tidak bergantung pada kemewahan, dan tidak menjadikan kenyamanan sebagai tujuan utama. Dari kesederhanaan itulah tumbuh daya tahan, keuletan, dan kepekaan sosial. Santri belajar bahwa hidup tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang memberi dan bertahan dengan bermartabat.
Dalam pondok yang masih merintis, setiap proses terasa penting. Tidak ada yang dianggap remeh. Setiap kegiatan, sekecil apa pun, menjadi bagian dari pembentukan mental. Santri menyadari bahwa mereka bukan penonton dalam sistem besar, melainkan bagian aktif dari perjuangan pondok. Kesadaran ini menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat, bahwa pondok bukan hanya tempat belajar, tetapi rumah nilai.
Julukan small is beautiful pada Pondok Al-Iman bukanlah pujian kosong, melainkan refleksi dari sebuah pilihan sadar. Pilihan untuk menumbuhkan kualitas sebelum kuantitas. Pilihan untuk membangun fondasi sebelum memperluas bangunan. Dalam dunia pendidikan, pilihan ini membutuhkan kesabaran dan keyakinan. Sebab hasilnya tidak selalu cepat terlihat, namun dampaknya cenderung lebih dalam dan tahan lama.
Al-Iman mengajarkan bahwa kebesaran tidak selalu dimulai dari keramaian. Ia sering lahir dari kesungguhan yang sunyi. Dari ruang-ruang kecil, dari perhatian yang tulus, dan dari nilai yang dijaga dengan istiqamah. Jika suatu hari Al-Iman tumbuh menjadi besar, maka kebesaran itu semestinya tetap berakar pada ruh awalnya: mendidik dengan hati, membina dengan teladan, dan menanamkan nilai sebelum mengejar nama.
Pada akhirnya, Pondok Pesantren Al-Iman Ponorogo memberi pelajaran sederhana namun mendalam: bahwa kecil bukan alasan untuk rendah diri, dan besar bukan jaminan kualitas. Selama nilai dijaga dan niat diluruskan, yang kecil pun dapat melahirkan makna besar. Dan di situlah keindahan itu bermula, small is truly beautiful.